BREAKING NEWS

Selasa, 19 Juli 2016

LIKE AN ANGEL PART 2

Tian mencoba menahan airmata nya.
“Aku akan menjaga Sharon untukmu Kak..”
“Terimakasih, Tian”
Kevin sedang menatap keluar lewat jendela kaca besar, melihat langit mendung yang mendukung suasana di ruangan itu. Sedangkan Tian hanya bisa duduk menatap kedua kakinya yang berbalut converse merah.
Sudah setengah jam mereka berdiam diri setelah percakapan mereka berakhir.

Esoknya..
Sharon berlari kecil ke arah Kevin yang sudah menunggunya di café langganan mereka..
“Kau sudah menunggu lama? Maaf, tadi mama memintaku menemainya ke butik”
“Tidak apa-apa.”
Setelah itu, datanglah pelayan membawakan 2 cangkir Americano untuk mereka berdua
“Sudah ku pesankan untuk mu” kata Kevin dingin.


Sharon bingung, tidak seperti biasa Kevin bertingkah seperti ini. Dia meminta nya datang ke café dan ingin membicarakan sesuatu yang penting. Sharon hanya memandangi kepulan asap tipis yang keluar dari coffe nya sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kevin.
“Aku ingin berbicara sesuatu” Kevin mulai membuka suara
“Kita harus berhenti sampai disini, Shar..”
“M..maksudmu?” Sharon mengeraskan genggamannya pada cangkir coffe nya
“Aku mau kita berhenti disini. Hubungan kita. Aku sudah tidak bisa melanjutkan ini. Maaf kan aku Shar..” Kevin menunduk
“Ta..tapi kenapa?” air mata Sharon hampir jatuh
“Aku lelah. Aku hanya tidak bisa membagi waktu antara kerjaku dan kau. Maaf kan aku Shar.. kumohon..”

Kevin menggenggam tangan Sharon. Dan Sharon mulai menangis terisak..
“Tidak apa.. hiks.. aku pergi dulu”
Sharon beranjak berdiri dan meninggalkan café tersebut. Cuaca seakan-akan tak berpihak pada Sharon, hujan pun turun degan derasnya. Membasahi tubuh mungil Sharon yang menangis. Hatinya perih, dia masih tidak mengerti mengapa Kevin tega memutuskan hubungan mereka. Sharon berlari pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari café itu.

Sesampainya di rumah, Sharon duduk di bangku taman belakang rumahnya. Dia duduk masih di guyur hujan deras. Dia menangis sepuas hatinya, hatinya sangat sakit. Sharon terus menangis sampai ia tidak sadar bahwa sedari tadi ada orang yang memayunginya dari belakang.. saat Sharon sadar, ia mendongak kea rah orang itu.. dia adalah Tian..
“hiks.. kenapa kamu bisa disini?” ucap Sharon masih sesenggukan
“Aku melihatmu menangis saat keluar dari café tadi, dan aku memutuskan untuk mengikutimu. Kau seperti orang bodoh, apa kau tidak malu? Orang-orang melihatmu menangis di jalan sambil tersandung-sandung seperti itu. Apa kau tidak sadar kalau orang-orang berfikir kau seperti orang gila huh?” Tian berkata panjang lebar

Baru pertama kali, Sharon melihat Tian berbicara panjang. Dia tertegun, ternyata Tian memperhatikannya.
“Hey.. kenapa kau malah diam saja?” Tian mengibaskan tangannya di depan wajah Sharon
“A..ah tidakk.. aku kedinginan. Ayo masuk sajaa”
“Kau sih berlebihan.. sampai menangis seperti ABG saja” Tian menggandeng tangan Sharon masuk ke dalam rumah Sharon.

-Di dalam rumah Sharon-
“Terimakasih” kata Sharon lirih
“Untuk apa?”

Sharon duduk di sebelah Tian setelah mengganti bajunya dan membuatkan 2 cangkir hot chocolate untuk mereka berdua.
“Semuanya..”
“Tidak apa. Jadi ada apa dengan kakakku? Apa kalian ada masalah?” Tian menatap teduh Sharon, dan membuat Sharon tenang.
“Dia memutuskanku. Sepihak..” Sharon menunduk
“Benarkah? Bagaimana bisa?”
“Entahlah…”
Sebenarnya Tian merasakan sakit yang di rasa Sharon, karna Tian sudah tau semuanya. Dia sudah bersedia menjaga Sharon untuk kakaknya itu.
Semenjak kejadian itu, Sharon lebih dekat dengan Tian. Mereka sering bertukar cerita satu sama lain. Tian pun sudah berubah tidak se pendiam dulu. Tian sadar, Sharon bisa mengubah semua yang ada di dalam dirinya. Dia menyayanginya, iya.
Tapi, setiap hari semenjak kejadian itu, Tian selalu mengunjungi kakaknya yang dirawat di Rumah Sakit. Tian berjanji akan menjaga Kevin sampai akhirnya Kevin benar-benar harus pergi. Tian sebenarnya ingin mengajak Sharon untuk menemui Kevin, agar dia tau yang sebenanya. Tapi Kevin selalu melarangnya, alasannya hanya karna dia tidak ingin membuat Sharon menyesal dan sedih. Dan Tian pun menuruti kemauan kakaknya itu..

Di suatu hari..
“Tian..” panggil Kevin
“Ya, kak? Kakak perlu sesuatu?”
“Tidak..”
“Emm baiklah..”
“Tian.. jika hari ini aku benar benar harus pergi. Jangan menangisi aku ya? Biarkan aku pergi dengan tenang, aku tidak ingin membuat adikku ini bersedih. Kau harus kuat ya?” Kevin tersenyum walaupun wajahnya pucat, bibirnya putih pasi dia tetap terlihat tampan.
Tian menghela nafas, “Baiklah kak. Tapi.. bolehkah aku memelukmu untuk pertama kalinya semenjak kita tidak pernah berbicara?” Tian menahan air matanya.
“Tentu saja..”

Tian pun memeluk Kevin, erat.. sangat..
“Aku menyayangimu, Kak. Kalau boleh aku meminta pada Tuhan, aku akan meminta agar aku bisa ikut denganmu.”
“Ssst.. jangan berkata seperti itu. Aku juga menyayangimu. Jaga dirimu, dan Sharon ya” lagi lagi Kevin tersenyum
“Aku akan melakukannya untukmu, Kak.”
Tiba-tiba ruangan menjadi hening sekilas. Sedetik kemudian suara yang tidak ingin pun terdengar, suara alat pendeteksi denyut jantung yang mengeluarkan suara nyaring. Tian pun terkejut, hanya terlihat satu garis lurus disana, dengan cepat ia menoleh ke arah kakaknya. Wajah kakaknya pucat pasi, Tian panik.
“Kak? Kakkkkk…”
Tian mengguncang tubuh Kevin. Dan segera memanggil dokter.

Sekarang Tian menunggu dokter keluar dari ruangan kakaknya, dia terduduk cemas. Dia sangat ketakutan..
“Maaf, anda keluarganya?” kata Dokter itu bertanya pada Tian
“Iya, Dok. Bagaimana kakak saya?”
“Maaf kan kami, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi Tuhan berkata lain, saudara Kevin sudah tidak ada.” Dokter merunduk duka
“Dok…” kaki Tian lemas
“Semoga saudara diberi ketabahan.. saya permisi” dokter meninggalkan Tian
Tian pun masuk ke dalam ruangan kakaknya lagi, dia melihat tubuh kakaknya sudah di selimuti kain putih. Tian masih tidak percaya, kenapa secepat ini. Tian membuka kain itu, Kevin masih tetap tampan walau wajahnya sudah putih pucat, di wajahnya tersirat senyum yang berarti dia sudah pergi dengan tenang dan megisyaratkan pada Tian untuk tetap tegar.
Sebulan kemudian, Tian sudah menceritakan semuanya pada Sharon.
Saat ini, mereka sedang di makam Kevin.

Sharon memandangi nisan Kevin, gadis itu tersenyum.
“Terimakasih, jelek. Kau sudah menyembunyikan semuanya. Kau tau? Walaupun kau menyembunyikannya, itu akan sangat menyedihkan untukku. Seandainya kau memberitahuku lebih awal, akankah itu lebih menyakitkan dari sekarang? Emm.. apa kau tenang disana?” Sharon menangis sambil tersenyum miris

Tian memegang pundak Sharon, Sharon menoleh dan tersenyum seolah berkata bahwa dia baik-baik saja. Tian pun ikut berjongkok dan memegang nisan kakaknya itu.
“Kak, kau sudah tenang disana kan? Aku akan menjalankan semua pesan-pesanmu. Aku janji itu. Dan, sampaikan salamku untuk Papa dan Mama disana ya, Kak.” Tian tersenyum pada nisan itu
“Tian…” panggil Sharon
“Ya?” Tian menoleh
“Apa lebih baik kita pulang sekarang? Mungkin sebentar lagi hujan turun”
“Baiklah.. Kak, aku pulang dulu ya. Sharon pasti akan kujaga” Tian tersenyum
“Kevin, aku dan Tian pulang dulu, ya. Lain kali aku pasti akan mengunjungi mu lagi” Sahron ikut tersenyum

Mereka pun meninggalkan makam itu. Hujan pun turun dengan derasnya. Mereka memilih untuk pergi ke café terlebih dulu. Seperti biasa, mereka memesan 2 cangkir Americano. Tak lama kemudian, pelayan mengantar pesanan mereka. Mereka bebincang hangat, seperti melupakan waktu. Mereka tak peduli, hujan masih belum lelah menghujam bumi. Mereka saling menatap, dan kemudian mereka tertawa, sampai Tian benar menatap Sharon dalam.
“Shar..”
“Ya?”
“Aku mencintaimu..” Tian menatap mata Sharon dalam dan tersenyum
“Aku juga mencintaimu, Tian” Sharon tersenyum tulus, rona merah terlihat di pipi putihnya
Tian menggenggam tangan Sharon erat, seakan tak ingin melepaskannya. Tian akan menjaga Sharon sampai Tuhan meminta nya untuk berhenti melakukan itu.
“Terima kasih, Kevin..” Sharon dan Tian berkata dalam hati.

– END –

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 KAMPUS CERITA
close
Banner iklan disini