BREAKING NEWS

Selasa, 19 Juli 2016

LIKE AN ANGEL PART 1

Tik.. tik.. tik..
Hanya suara jarum jam yang memenuhi ruangan bercat hijau dimana terdapat dua orang yang sedang mengalihkan pandangan satu sama lain. Diantara mereka tak ada yang ingin menyudahi keheningan di ruangan itu.

Laki -laki bertubuh jangkung, berkulit putih, dan berwajah pucat sedang menatap keluar melihat langit mendung yang mendukung suasana di ruangan itu. Sedangkan laki-laki lain ber-rambut coklat dengan hidung mancung berperawakan tinggi dan berkulit putih–nyaris sempurna– itu hanya duduk menatap kedua kakinya yang berbalut converse merah.
Sudah setengah jam mereka berdiam diri setelah percakapan mereka berakhir.
Like an Angel Part. I - Cerpen CInta Romantis
– BACK TO STORY LINE –
“Kau tidak mau ikut denganku?” kata perempuan mungil sambil menatap laki-laki keturunan Belanda–Indonesia itu.
Pria itu hanya menggeleng enggan.
“Benarkah?” gadis itu mencoba menatap mata hazel pria itu.
“Tidak. Kau pergi saja sendiri. Kevin pasti akan marah” ucap pria itu dingin.
“huft.. memang apa alasannya untuk marah? Kau dan aku kan hanya teman. Lagian kau kan adiknya” kata gadis itu lalu memanyunkan bibirnya
“Baiklah tapi hanya sekali ini saja. Setelah itu kau tidak boleh menggangguku. Ayo” pria itu segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan gadis manis tadi yang sedang tersenyum mendengar jawaban laki-laki itu.
Gadis itu bernama Sharon, dan pria itu bernama Tian.
Mereka sedang menuju toko buku. Sedari tadi Sharon meminta Tian untuk menemaninya karena Kevin–kekasih Sharon– sedang sangat sibuk jadi Sharon mengajak Tian–adik Kevin– untuk menemaninya.

SKIP>>

Saat keluar dari toko buku, Sharon tak berhenti mengoceh ini itu yang tidak di perdulikan oleh Tian. Tian memang begitu, dingin, sulit ditebak, dan acuh..

Gadis itu seketika berhenti berjalan, dia menatap sebal laki laki itu dari belakang. Tian yang merasa ada yang janggal pun menengok kearah Sharon.
“Ada apa?” katanya datar.
“Kau membuatku seperti berbicara pada dinding berjalan tau tidak? Dasar menyebalkan! Huh!” gadis itu mencoba mendahului Tian, namun Tian menahan tangan gadis itu dan menarik Sharon untuk menghadap padanya
“Y..Yaaa! Apa yang k..kau lakukan?” kata Sharon terbata
“Dengarkan aku..”
“A..apa?”
“Kau itu sangat cerewet. Telingaku sampai lelah mendengarkan ocehanmu yang sama sekali tidak penting itu. Kau mau mengganti telingaku jika telingaku rusak karnamu huh? Jadi diamlah, bodoh!” Tian berkata tepat di wajah Sharon. Membuat Sharon mematung mencerna kata kata Tian.
“A..apa kau bilang? B..bodoh?”
“Iya, kau bodoh. Kenapa?”
“Yaaaaa! Tiaaaaaaaannnnn! Kau menyebalkannnnn!!”
“Memang.” Tian pun meninggalkan Sharon.

Dari jauh Tian berkata pada Sharon yang masih berdiam diri di tempatnya semula sambil mencaci di dalam pikirannya.
“Hey! Kau! Pulanglah sendiri, telfon lah Kevin untuk menjemputmu! Aku ada urusan!”
“Bagaimana bisa? Tian, tunggu akuuuuu!”
Teriakan gadis itu percuma, Tian sudah memasuki mobilnya dan pergi menjauh. Sekarang tinggal Sharon yang sedang mengumpat menyalahkan Tian.
“Dasar menyebalkan! Huh!”
Akhirnya Sharon mencoba menelepon Kevin.

-Di Telepon-
“Halo.. Kevin?”
“Iya. Ada apa Sharon?”
“kau sibuk tidak?”
“Memangnya kenapa?”
“Bisakah kau menjemputku di toko buku? Tak ada taxi yang lewat sedari tadi”
“Baiklah. Tunggu aku sekitar 15menit lagi.”
“Oke.. sudah dulu ya”
“Yaa..”
Sharon menyudahi telfonnya. Dan menunggu Kevin datang.

25 menit kemudian….
“Sharon!”

Laki-laki putih melongok dari jendela mobilnya untuk memanggil Sharon, Sharon pun segera berlari kecil menuju mobil itu..
“Kau lama sekali sih hehe” Sharon masuk ke mobil itu
“Maaf sayang, tadi ada yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Kau membeli buku apa?”
“Tidak apa-apa hehe. Aku hanya membeli beberapa buku untuk tugas ku. Tapi tidak semua yang kucari ada”
“Emm.. kau, sendiri?”
“Tidak. Tadinya aku dengan Tian”
“Tian? Lalu dimana dia sekarang?”
“Iya. Tapi dia tadi marah padaku dan pergi begitu saja makanya aku memintamu menjemputku.”
“Marah kenapa?”
“Dia bilang aku ini cerewet. Padahal aku hanya bercerita tentang anak anjing yang kita beli 2bulan yang lalu”

Kevin tertawa terbahak-bahak. Sharon pun memandang Kevin bingung dan sebal.
“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”
“Hahahaha… kau sudah tau kan sifat Tian? Dia memang tidak suka mendengar cerita yang tidak penting.. haha kau ini ada ada saja.”
“Hufft. Baiklah memang salahku” Sharon cemberut
“Sudahlah biarkan saja..”

“Baiklah”
Tiba-tiba Kevin terbatuk, dan batuknya mengeluarkan darah. Namun sebelum Sharon menyadarinya, Kevin menghapus darah itu dengan sapu tangannya.

SKIP>>

Suatu hari, Sharon mengunjungi rumah Kevin dan Tian. Saat itu rumah itu terlihat sepi, di halaman rumah itu hanya terdapat mobil Tian. Sharon memutuskan untuk tetap masuk. Dan dia menekan bel rumah itu. Sampai penghuni nya keluar, Sharon terperanjak saat melihat Tian sudah ada di depan pintu karna sebelumnya Sharon membelakangi pintu itu.
“Mau apa? Kevin tidak ada di rumah. Kau sudah buat janji?” kata Tian datar.
“Tidak.. tapi apa boleh aku menunggu disini? Aku hanya ingin bertemu Kevin. Aku tau dia sibuk, karna itu aku datang ke sini”
“Masuklah” Tian membuka pintu dan meninggalkan Sharon di ruang tamu
“Kau tunggulah saja disitu, jika kau butuh minum ambilah sendiri di dapur. Jangan menggangguku” Tian berkata sebelum ia benar benar meninggalkan Sharon dan menaiki tangga menuju kamarnya.
“Haish.. dasar anak itu. Aku kan calon kakak ipar nya. Kenapa dia memperlakukanku seperti itu. Hufft..” Sharon mengeluh.

Sharon mencoba berkeliling ruang tamu itu dan melihat-lihat bingkai foto yang bergantung di dinding. Sharon berhenti pada suatu foto yang menarik perhatiannya, ada seorang anak kecil sekitar umur 10 tahun sedang memakai topi ulang tahun dan dia apit oleh kedua orang tuanya, itu Kevin. Tapi yang menjadi perhatian Sharon adalah, anak kecil yang sedikit lebih kecil daripada Kevin berdiri tidak jauh dari tempat Kevin dan sedang melihat Kevin meniup lilin ulang tahun. Sharon berfikir, apakah itu Tian, tapi mengapa dia seperti itu. Sharon terus memperhatikan foto itu sampai tiba tiba Tian datang..
“Itu Kevin..” ucapnya tiba-tiba
“Ah.. sejak k..kapan kau disitu?” Sharon terkejut melihat Tian sudah bersandar pada dinding disebelahnya
“Sejak tadi. Apakah kakakku begitu tampan sampai kau melihat fotonya sambil melamun?”
“Bukan seperti itu.. aku hanya bingung, siapa yang dibelakang itu?”
“Itu aku..”
“Tapi mengapa kau tidak ikut berfoto?”
“Aku tidak mau”
“Kenapa?”
“Kau ingin tau?”

Tiba-tiba Tian mendekati Sharon dan memojokkannya ke dinding membuat Sharon tidak dapat berkutik. Sharon gugup.
“A..apa i..itu?”

Tian semakin mendekat. Sharon mencoba mendorong Tian agar menjauh tapi tangannya di tahan oleh Tian.
“Tiaaann…” Sharon memohon pada Tian agar menjauh.
“Dengarkan aku dulu..” kata Tian
“K..kenapa?”
“Aku….”
“Menyukaimu…..”
“Sharon…..”

DEG! Sharon terpaku, dia mencoba mencerna kata-kata Tian baru saja. Apa dia salah dengar? Semoga saja begitu.
“Tian…”
“Ya?”
“Apa aku tidak salah dengar?”
Tian menggeleng dan menatap dingin Sharon
“Tidak usah menjawabnya, aku tidak butuh jawabanmu..”
Tian langsung pergi meninggalkan Sharon yang masih membeku di tempat semula. Jantungnya masih berdegup tidak karuan. Kakinya lemas. Wajahnya pucat.
Akhirnya Sharon memutuskan untuk pulang.

SKIP>>

Kakak beradik itu sedang berada di ruang tamu setelah 3bulan mereka tidak bertemu satu sama lain. Karena Kevin pergi ke Singapura.
“Aku ingin berbicara padamu” kata Kevin pada Tian
Mereka memang jarang sekali berbicara semenjak kedua orang tuanya meninggal.
“Ada apa?” Tian hanya duduk siap mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh kakak nya.
“Aku ingin bertanya padamu dulu..” Kevin menghela nafasnya panjang
“Apa kau menyukai Sharon?”
Tian terkejut dengan pertanyaan Kevin, dia tidak mengerti kenapa kakaknya itu bisa bertanya seperti itu. Apa Kevin tau semuanya.

Tian hanya diam saja. Dia tak berani menjawab pertanyaan tersebut.
“Tian.. jawab aku”
“Tapi kak..”
“Sudahlah Tian, tidak apa. Aku sudah tau itu. Aku hanya ingin meminta tolong padamu. Tapi aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Ku harap kau tidak terkejut ya..”

Tian mengangguk pasrah siap mendengar kata-kata Kevin yang selanjutnya..
“Sebenarnya aku mengidap TBC, dan itu sudah sangat parah. Hidupku tak lama lagi Tian. Maafkan aku tak memberi tahumu sejak awal. Aku tidak ingin membuatmu cemas walaupun aku tau kau tidak peduli padaku.”
“Kak….”
“Dengarkan aku, aku menyayangimu Tian. Aku selalu ingin menjagamu. Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian semenjak Papa dan Mama meninggal, aku selalu berusaha bekerja keras untuk kuliah mu, tapi maaf karna takdirku berkata lain, aku sudah tidak bisa menjagamu.” Kevin menghela nafas beratnya lagi. Wajahnya semakin terlihat pucat.

Tian hampir menangis, hatinya perih mendengar pernyataan kakaknya. Dia ingin berteriak. Walaupun sikapnya yang tidak peduli dengan siapapun, Tian menyayangi abang satu-satunya itu. Hanya Kevin yang dia punya..
“Tian.. satu lagi. Aku ingin kau menjaga Sharon untukku. Kumohon..” Kevin berkata lirih
“Kak.. tapi..” Tian memainkan jarinya gelisah
“Tidak apa. Kau pasti bisa menjalani hidup mu sendiri. Kau kan sudah terbiasa melakukannya bukan? haha” Kevin tertawa miris
“Maafkan aku Kak, aku terlalu acuh padamu.. aku menyesal.. maafkan aku..”
“Tidak usah meminta maaf, Tian. Itu bukan salahmu, aku tau kau masih tidak merelakan kepergian Papa dan Mama. Aku mengerti, aku yang seharusnya meminta maaf karna tidak bisa menjagamu lagi. Jadi bagaimana? Apa kau bersedia menjaga Sharon untukku? Bukankah kau mencintainya? Aku hanya tidak ingin dia bersedih setelah kepergianku nanti, dan aku hanya ingin dia jatuh di laki-laki yang tepat.”

Lanjut Part 2 nya LIKE AN ANGEL PART 2

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 KAMPUS CERITA
close
Banner iklan disini