BREAKING NEWS

Sabtu, 16 Juli 2016

JERIT MALAM



    Aku terus menguap setiap lima menit sekali, menahan kantuk yang terasa mencapai stadium akhir. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi masih tidak terlihat batang hidung Mike, teman kerjaku. Kami berencana untuk mengerjakan Project kantor di rumah. Namun, aku merasa tidak yakin jika dia akan datang malam ini. Aku lalu berjalan ke ruang keluarga, berniat menonton film di TV. Setidaknya mengurangi rasa suntukku. Aku menekan tombol Power di remote dan TV mulai menyala.
“Telah terjadi pembunuhan di salah satu rumah yang berlokasi di Burnsville. Korban ditemukan mengenaskan dengan bagian tubuh terpotong-potong. Polisi tengah menyelidiki siapa pelaku dibalik kasus ini.”
Bulu kudukku merinding. Bukan karena isi beritanya, melainkan dari mana asal berita itu disiarkan. TV yang berada di hadapanku ini menayangkan film action. Aku refleks menoleh ke samping dan di atas meja sana, radio tua tiba-tiba saja menyala. Padahal tidak ada orang selain aku di rumah ini. Aku bersumpah, bukan aku yang menyetelnya.
“Mungkin tersetel sendiri. Namanya juga radio tua.” gumamku.
Aku kembali menonton. Saat terlarut kagum melihat Tom Cruise beradu akting, telingaku samar-samar mendengar suara ketukan pintu.
“Ah, pasti itu Mike.”
Aku berjalan santai hendak membukakan pintu bertekstur kayu itu. Dugaanku ternyata salah. Bukan Mike yang ada di balik pintu, melainkan kotak hitam yang sepertinya baru saja diletakkan oleh Pak Pos. Tapi aku kembali berpikir, memangnya ada Pak Pos yang mau mengirimkan paket tengah malam begini? Kuraih kotak hitam itu, tanpa ada niat untuk membukanya.
Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada seseorang pun di sekitar rumah. Eitss, aku melewatkan seseorang yang berada puluhan langkah dari rumahku. Ia tepat di samping lampu jalan. Dari kejauhan, aku bisa melihat jika ia menggenggam sesuatu seperti kapak. Namun wajah orang itu tidak dapat kulihat dengan jelas karena ia berdiri dengan posisi membelakangiku.
“Apa mungkin dia yang meletakkan kotak hitam ini?” tanyaku pada diri sendiri. Rasa penasaran menjalar di batinku, berusaha menerka-nerka tentang orang asing itu.
“Hay, kau!” dengan berani aku berteriak keras padanya.”
Orang itu berbalik dan … .
“Sial!”
Orang itu seperti Iblis yang kehausan darah. Matanya merah dan banyak sobek di wajahnya. Kapak tajam itu terangkat tinggi dan ia menyeringai seolah ingin memakan dagingku.
“Hay, juga, mangsaku.”
Dengan waktu sepersekian detik, aku langsung menutup pintu dan berusaha menarik diri. Tentu tak lupa aku membawa kotak hitam itu. Secepat kilat aku menyusuri lorong rumah yang gelap karena kebiasaan bodohku yang selalu absen menyalakan lampu di tengah malam. Dan akhirnya, sampailah aku di kamar, tempat persembunyianku yang paling aman.
“Dasar paranoid, kenapa aku malah ketakutan gini, sih?!”
Gemetaran aku merogoh saku celana, mencari ponsel. Aku harus melapor ke 911, agar bahaya tidak terjadi. Aku takut jika orang itu akan membunuhku. Kau pasti akan pingsan ketika berada di posisiku. Sendirian dan pikiran tidak karuan. Di Burnsville, hal gila bisa saja terjadi tanpa mengenal akal. Tapi niatku untuk menghubungi 911 batal karena Mike tiba-tiba menelepon. Ah, ini kesempatan. Mike akan menjadi malaikat penyelamatku.
“Halo, Mike. Kau berada dimana sekarang?” Aku mencoba memelankan suaraku. Entah mengapa, aku merasa terintimidasi.
“Aku dalam perjalanan.”
“Mike, kenapa suaramu tiba-tiba berubah?”
“Ah, aku baru saja makan daging.”
“Oh, baiklah. Bisakah kau secepatnya ke rumahku?”
“Rumahmu di Jalan Ile St No. 13?”
“Ya, benar. Aku mohon, cepatlah ke sini.”
“Kau dimana?”
“Aku di rumah. Lebih tepatnya di dalam kamar.”
“Apa kau bersembunyi?”
“Hem, ya. Jujur saja, aku barusan bertemu dengan orang asing yang sepertinya … ingin membunuhku.”
“Astaga, bagaimana bisa?”
“Akan kujelaskan nanti.”
“Baik, aku akan segera menyusulmu.”
“Cepatlah, sebaiknya kau juga harus memanggil polisi yang masih berjaga.”
“Baik-baik. Tetaplah berada di sana dan tenang. Jangan panik.”
“Mike, aku sangat ketakutan. Bagaimana jika dia benar-benar ingin membunuhku. Merobek semua isi perutku dengan kapak merahnya.”
“Tenanglah. Jangan berpikiran macam-macam.”
“Kau meneleponku sambil mengemudi?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Hanya berjalan. Oh ya, apa kau menerima paket yang kukirimkan? Kotak hitam istimewa untukmu.”
Mataku beralih ke kotak hitam yang tanpa sadar sedari tadi berada di pangkuanku. Jadi, pengirim kotak itu adalah Mike. Huft, aku bernapas lega, rasa penasaranku akhirnya lepas juga.
“Ya, aku menerimanya, tapi belum bisa kubuka sekarang.”
“Kenapa? Bukalah cepat.”
Mengherankan. Di saat menegangkan seperti ini, Mike malah menyuruhku membuka paket itu. Aku menuruti permintaannya. Saat kubuka, hidungku mencium bau anyir. Dan mataku spontan membola sempurna ketika tahu isi kotak itu. Tahukan kalian? Dua bola mata dengan saraf panjang, beserta usus besar merah terekspos jelas di depanku.
“Gila!! Apa-apaan ini??!!”
Kotak hitam itu langsung kulempar ke sudut kamar.
“Apa maksudmu mengirim benda menjijikkan ini?!” aku kembali mengambil ponsel yang sempat terbanting karena efek kagetku. Rasa takutku kini teralihkan dengan emosi.
“Hay, Mike! Jawab aku!” makiku keras. Aku tidak peduli jika orang asing di luar sana akan mendengar suaraku.
BRAKK!!
Suara keras datang dari pintu kamar yang sepertinya didobrak. Refleks aku langsung gemetaran. “Siapa itu?!”
BRAKK!!
“Siapa pun kau, jangan macam-macam denganku?!”
BRAKK!!
Pintu kamarku berhasil didobrak oleh … ya Iblis itu. Darah mengucur deras dari mulutnya, seperti air saliva yang keluar dari mulut sang predator.
Aku berjalan mundur, perlahan. Berusaha menunjukkan ekspresi malang dan minta dikasihani. “Kumohon, jangan bunuh aku.”
“Apa kau sudah melihatnya?” tanyanya.
Suaranya persis sekali dengan Mike, orang yang baru kuhubungi. Mataku menghunus tepat pada kedua tangannya. Tangan kanan menggenggam kapak merah dan … Oh Tuhan! Dia juga menggenggam ponsel di tangan kirinya. Apa jangan-jangan…
“Asal kau tau, aku lah yang dalangnya. Aku yang membunuh Mike.”
Ia berjalan pelan sekali, namun sanggup mendobrak detak jantungku menjadi dua puluh kali lipat. Sekali dia melangkah, maka nyawaku akan terancam. Dan benar saja, kapak merah itu melayang dan mendarat tepat di dada kiriku. Darah merahku mengalir deras bagai hujan. Hahaha, tak apa. Lebih baik langsung mati dicabik kapak daripada dimakan seperti Mike. Sialnya, aku terpisahkan dengan badanku. Hanya kepala saja yang masih bisa kubawa ke mana-mana.
5
4
3
2
1
Nantikan aku di samping tempat tidurmu, ya. Kepalaku ini akan menggelinding bebas di kamarmu, sebentar lagi.

Posting Komentar

 
Copyright © 2016 KAMPUS CERITA
close
Banner iklan disini