BRUUUUUUuuUUUUUuuUUUKKKKKkkkKKKkkKKK!!!
AAAAaaaAAaAAaaaaaaAAAAwwwWwwWWwWWWwwWWww!!
Suara jeritan itu terdengar tepat di depan pintu gerbang.
“Kamu masih saja ingin membantah Tante? Tante tidak mengizinkan kamu untuk berpergian bersama teman – teman segerombolan kamu!”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi – tapian. Tante, bilang tidak ya tidak!”
“Permisi..”
“Iya, mari masuk.” Ucap Tante mempersilakannya. Dan kembali menuju ruang keluarga.
“Kamu habis jatuh Kir? Mana formulirnya? Terus kapan tes tulis dan interviewnya?”
“Iya, tadi terpeleset. Hehehe. Dua minggu lagi Nay. Nih!”
“Cuma ini aja? Gak ada pesan lain dari Bhinar?”
“Ada pesannya, sini aku bisikin?”
“Okay deh.”
Kirana pun akhirnya pulang dengan berjalan tertatih. Tak ada hiburan lagi, sekarang teman Nayla hanyalah setumpuk buku yang mungkin akan menjeratnya ke dalam pasal hukuman dan menyeretnya ke pengadilan.
“Akhirnya, kamu kutemukan juga.” Ucapnya sedikit bahagia sambil berpikir licik.
***
TOK.. TOK… TOK..
“Nay, disuruh Tante makan siang.”
“Iya mbak, sebentar lagi Nay ke ruang makan.”
“Kenapa Nay, wajah kamu murung sekali?” Tanya mbak Sinta mencuri perhatian.
“Oh, mbak aku pingin pergi ke Nony mbak? Beli ayam goreng, soalnya lama gak makan ayam goreng lagi mbak.”
“Ya bilang sama Tante, Nay.”
“Lah mbak, pasti nanti gak di bolehkan. Dan yang paling membosankan, daun telinga ini sudah capek mendengarkan judgenya Tante, yang tak sesuai dengan gagasan – gagasan positif.”
“Terima sabar aja, Nay. Ya sudah yuk ke ruang makan! Gak enak sama Tante.”
“Iya, mbak duluan aja. Aku mau naruh handphone dulu.”
Segeralah Nayla menuju ruang makan. Siang ini acara makan enak Nayla gagal lagi. Entah, sampai kapan tubuh ini harus bertahan di dalam pekarangan yang selama ini memberikan rasa tidak nyaman.
Kembali dalam hitungan detik, Nayla pun kembali beranjak menuju kamarnya dan memikirkan sesuatu yang di ucapkan oleh Kirana. Perasaan dilema itu kembali menghantui Nayla seperti rumus – rumus matematika yang dapat menghancurkan kue tar ulang tahun tahun Nayla tahun lalu.
“Duh, ini handphone kenapa sih harus jadi seperti ini?” menatap cemas dan memutar – mutar handphonenya. Rasa khawatir itu menyerang Nayla hingga menjadi sebuah penyakit yang sangat mematikan.
****
BYURRRRrrRRRRRRRrRRRRR!!
“Cihuyyyyy! Akhirnya aku bisa menghirup udara luar.” Ucap Nayla ketika selesai mandi sambil membuka daun jendela di kamarnya lebar - lebar dan kini bersiap – siap untuk berangkat ke gereja.
TENG… TENG… TENG…
Pukul 07.00 WIB lonceng dibunyikan dan diiringi dengan sebuah senandung yang menyayat – nyayat menarikan dua daun jendela yang saling bersebrangan di dalam gedung gereja.
“Setia dalam Perkara Kecil.” Ya itulah tema yang diberikan dan diberitakan hari ini. Tepat dengan perasaan Nayla yang rasakan saat ini.
Sesampainya dirumah, timbullah perasaan yang sangat mencurigakan. Diraihnya handphone kesayangannya. Jari jemari yang lentik itu mulai menarikan diatas keypad handphone BlackBerrynya bertipe 9300 berbadan putih. Tiga jam berlalu, dengan langkah ragu – ragu dan perasaan takut, tiba – tiba muncullah sebuah hasutan setan dalam keinginan Nayla untuk melakukan sebuah tindakan bodoh itu.
“Tante, Nay mau pergi ke counter handphone ya?” sambil membawa tas ransel dan pakaian seperti hangout.
“Mau ngapain? Minggu – minggu kok ke counter handphone?”
“Mau jual handphone Tante, soalnya diberita BB bisa meledak Tante.” Teringat akan kondisi si badan putih itu tidak lagi baik. Bila di sentuh selalu menimbulkan getaran – getaran kecil yang menyeretnya ke dalam ingatan yang tak stabil.
“Counter disini kalau minggu tutup.” Jawab Tante dengan pandangan curiga menatap Nayla yang disertai dengan action kecil seperti orang ketakutan berbohong.
“Gak kok. Nay, mau jual handphonenya.”
Rasa takut dan rasa khawatir Nay semakin diragukan oleh Tantenya yang selalu berpikiran negative dan selalu saja ingin mencampuri urusan Nayla. Pikir Nayla singkat.
“Ya sudah sana. Pergi sama siapa?”
“Sama Bhinarlah Tante. Masa sama angkot? Mana ada angkot hari gini nongkrong?”
“Mau pacaran, bilang saja Nay.”
“Gak. Gak ada komitmen untuk pacaran.” Batin Nayla dengan muka kusutnya, pergi melanjutkan demi niat itu.
SUIIIITTTTT…. SHIIITTTTT….
Tepat sudah di depan counter handphone. BLABLBALBAAA. Niat Nayla itu semakin memuncak menjadi sesuatu yang harus di dapatkan dan memberontak hebat di dalam dada hingga menyesakkan jantung hati Nayla.
Kini saatnya Nayla dan Bhinar saling bersenang – senang di saat momen berdua ini. Canda tawa dan suasana romantis ini kembali digelar dengan sebuah cerita sore menjelang senja yang sangat bertabur. Rasa kegundahan Nayla pun hilang, hanya dengan peristiwa sederhana. Nayla mampu memaknai bagaimana rasanya menjadi anak yang selalu merasa dikekang, over protective, dan lain sebagainya. Berbeda dengan gaya hidup Nayla yang selalu bebas berekspresi, dahulu kala.
Selesai percakapan itu, Nayla harus kembali ke rumah. Dan sepanjang perjalanan Nayla lagi – lagi memikirkan sesuatu seperti orang yang benar – benar trauma dengan keadaan. Bahwa ada yang menyangka dirinya sedang mengalami geser jiwa dan geser otak. Sampai – sampai tindakan memalukan Nayla, seperti berbicara sendiri dan menirukan orang gila itu pun sempat untuk di dramakan di samping rumah. O EM Ji, separah inikah psikis kondisi jiwa Nayla?
“Kok pulang sore banget Nay?” Tanya adik sepupu Nayla.
“Habis muter – muter cari counter.”
“Terus sudah di jual ? Laku berapa ?” Tanya Paman Nayla.
“Ih ini orang, mintanya apa sih? Tanya – tanya laku berapa? Beliin handphone aja enggak. Kalau ada Paman yang dari Semarang kasih uang ke aku dilarang? Rese banget.” Ucap Nayla dalam hati.
“Laku satu juta lima ratus.”
“Lha uangnya mau buat apa? Buat dikasih sama pacarnya?” tanya Tante berpikiran seoalah – olah uang itu bakalan Nayla gunakan untuk tindakan seperti yang dilakukan oleh pasangan kekasih tak resmi berstatus kawin, yang menjatuhkan hargai dirinya.
“Hello, saya bukan PSK, Tante. Saya masih waras.” Ucapnya dalam hati sambil membaca sedikit pikiran jelek Tante dan Pamannya.
DEG!! ASTAGA, JUDGEnya menusuk ke rongga dada.
“Aku gak serendah itu, Tante. Bisanya cuma JUDGE doang! Selalu berpikiran negative dan berucap negative.” Batin Nayla dalam hati menahan rasa kesalnya.
“GAK ya! Buat di pinjemin sama temen tapi bukan Bhinar!” terlontar sudah kata – kata yang tidak diinginkan Nayla. Bahkan kata – kata itu Nayla sempat menahannya dengan desakkan mereka berdua dan pelafalan mereka yang sangat menyakitkan. Akhirnya batin ini tak dapat menahannya kembali. Dan itu sekedar ucapan tertawa.
“Heh! Jangan melakukan yang kedua kalinya. Walaupun ini yang pertama buat kamu.” Ucap Paman.
“Aku tahu sebelum kalian berpikir seperti itu. Tapi apa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku? Dengan keadaan seperti ini, masih saja mencari – cari kesalahan orang?” ucap Nayla lirih.
Pertengkaran hebat semakin menjadi ledakkan di rumah ini. Tangisan dalam batin yang menjadi permasalahan dalam jiwa. Kadang pula terbesit satu tindakan diantara ada dan tiada dalam keresahan Nayla.
Senin pagi tiba membawa sebuah cerita baru.
“Tak kasih tahu, kamu tuh jangan melakukan hal yang sama dengan kedua orang tuamu?” kata Paman.
“Gak kok. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
“Lha terus uangnya kemana?”
Peristiwa pengintrogasian kembali beraksi. Kepekaan masih belum bisa terlihat di bola matanya atas perilaku yang Nayla lakukan dan ucapkan.
Siang itu di kamar duka.
“Tadi, aku ceritakan peristiwa tentang Nayla sama temen Ibu?”
“Terus gimana Bu?”
“Temen Ibu nangis – nangis.”
Perbincangan itu terdengar tepat di gendang telinga Nayla, perbincangan antara Tante dan adik sepupu Nayla. Banyak alasan mengapa Nayla berucap seperti itu. Tak dapat dipastikan.
Badai biarlah berlalu. Mereka tak tahu betapa sakitnya bila terus – terusan di JUDGE ini - itu. Bahkan dipermalukan di depan orang – orang.
“Selama ini aku hanya diam. Karena aku ingin mereka sadar tentang apa yang menjadikan satu alasan yang membuatku harus mengucapkan frasa itu.”
****
TOK… TOK…
“Oh, masalahnya apa Nay?”
“Masa jual handphone aja sampai segitu introgasinya. Ditanyain laku berapa? Uangnya dikemanakan? Kenapa di jual? Jelas – jelas alasannya juga sudah aku jelaskan. Dan gak harusnya kan tanya laku berapa dan uangnya buat apa? Gak belikan juga. Beli pakai hasil sendiri, bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku?”
“Aduh, Nay itu sifat bener – bener bikin terlalu over protective banget. Mungkin, memang ada niat baik tapi salah mengaplikasikannya ke kamu deh.”
“Ya bisa jadi sih. Setidaknya ya teori di dalam bidangnya sedikit bisa diaplikasikan untuk akulah. Bukan untuk orang lain saja atau public place gitu Nin.”
“Jadi, itu orang lulusan Psikologi dong Nay?”
“Tentu. Eh makasih ya dah mau datang ke rumah tuk mendengarkan ocehanku.”
“Biasa saja kali. Aku juga lagi bĂȘte di rumah sebenernya Nay. Oya, aku mau shopping dulu nih sama Ranty. Aku pergi ya? Bye.”
****
Liburan panjangpun datang dan kini adik sepupuku dari Yogyakarta datang.
“Mbak, lagi ngapain?”
“Lagi internetan aja. Ngapain ke kamarku?”
“Takut mbak sendirian. Belum pulang semuanya. Dan tadi di ruangan belakang jendelanya gerak – gerak sendiri, gak ada angin. Oya mbak, katanya mau beli handphone android.”
“Lah androidnya dua juta semua. Ya aku beli batangan aja yang murah tapi kalau di jual pakai kardus bisa harga satu jutaan.”
“Harganya berapa?”
“Mau jadi wartawan apa mau jadi intel kamu?”
“Masalahnya aku masih mencari handphone slide kayak gini. Lha sisa uangnya kok di dompet mbak gak ada?”
“Kamu di sekolah ada pelajaran tata karma gak sih?”
“Ada lah mbak. Yang isinya sopan santunkan?”
“Nah itu pinter. Kenapa gak diterapkan?”
“Ya suka – suka aku. Uang sisanya dikemanakan mbak? Buat pacarnya ya? Itu kata Tante mbak. Tapi aku yo agak gak percaya.”
“Gak ya! Emang aku cewek murahan! Sorry lah memperjuangkan untuk seperti itu. Ya buat makan di rumah makan Nony.”
“Makan apa mbak di Nony?”
“Makan ayam goreng sama gurami chiken. Uenak banget pokoknya. Habis berapa coba? Habis 450rb.”
“Uenak banget mbak. Aku kok ra diajak sih? Lha kemarin mbak pergi kemana mbak?”
“Kemarin tuh habis ngrayain acara ulang tahunku. Soale gak dirayain, jadi ngrayain sendiri. Makanya pulang agak malam. Nek mau mintakan yo gak enaklah.”
“Selamat ulang tahun ya mbak?”
Inilah percakapan Nayla dengan Ferry, adik sepupu Nayla yang dari Yogyakarta sambil bergaya bahasa ala Yogyakarta.
“Fer, tadi mbak Nayla cerita apa?” saat di ruang tamu.
“Tadi tak tanyain tentang cerita Tante, terus tadi bilang kalau uangnya buat makan – makan di Nony ngrayain ulang tahunnya tadi dan gak buat pacarnya kok. Tante aja yang banyak JUDGEnya.”
“Lha kamu percaya gak?”
“Ya percaya. Aku di kasih tahu nota total habisnya.”
“Pinjem handphone BBnya dong!” kata Paman dari Yogyakarta ke kamarku.
“Sudah saya jual.”
“Gak kuat ngrawatnya pa?”
“Ya buat pacarnya.” Nimbrung Tante sehabis mewawancarai Ferry.
“Gak ya. Emangnya aku cewek apakah!” jawab Nayla ketus.
“Tolong, jangan selalu berpikir negative tentang apa yang belum menjadi alasan yang kuat! Dan bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku dengan kondisi psikis seperti ini?” ucap Nayla lirih.
Akhirnyapun mereka pergi berlibur ke objek wisata Owabong. Keceriaan Naylapun berubah menjadi rasa tertekan. Diam itu memang emas. Dan emas itu logam. Logam itu berat. Nayla berdiam diri memikul beban batinnya yang berat tanpa berpikir secara ilmiah.
“Aku hanya tak ingin melukai kalian. Kapankah waktu akan menjawab dalam dua hal berbeda dan keadaan yang sama? Skenario Tuhan memang teradaptasi saat ini. Dan algojo sebanyak apapun tak akan merubah keputusanku. Aku hanyalah seorang gadis kecil yang baru mengenal dunia. Perlu banyak teori dan praktikum yang selalu ku pelajari. Salahkah aku bila aku memberontak mengutarakannya dengan caraku sendiri? Kurasa TIDAK.” Dialognya menatap dalam – dalam kepergian sesaat mereka.
Untuk KAMU yang selalu saja menyerang kesalahanku menjadi sebuah film trailer berubah menjadi teaser. Dan ‘kesalahan’ yang selalu kau anggap fatal di dalam pikiranmu menjebak batinku ke dalam pengadilan tanpa praduga yang kuat.



Posting Komentar